Kamis, 04 Desember 2014

Metodologi Penelitian Pendidikan

Karya:
John W. Best

Disunting Oleh:
Drs. Sanapiah Faisal
Drs. Mulyadi Guntur Waseso

Penerbit “USAHA NASIONAL” Surabaya-Indonesia
1982


BAB I (Makna Penelitian)

            Dalam proses sejarah menuju metode penemuan ilmiah, andil sillogisme (ilmu logika) tak dapat diabaikan. Dalam hubungan ini, sandarannya ialah kekuatan nalar, kekuatan analisis yang kritis melalui berfikir logis. Menurut Dewey, pola metode ilmu pengetahuan mengikuti proses berikut ini:
1.      Identifikasi dan pembatasan masalah.
2.      Memformulasikan hipotesis.
3.      Mengumpulkan, mengorganisasikan dan menganalisis data.
4.      Memformulasikan kesimpulan-kesimpulan.
5.      Verifikasi, apakah sesuatu hipotesis ditolak, diterima ataukah dimodifikasi.
Suatu teori, pada dasarnya berisi penggambaran hubungan sebab-akibat di antara variabel-variabel.
            Antara penelitian dan metode ilmiah, kadang-kadang dipersamakan artinya. Penyamaan dimaksud, dikarenakan banyaknya elemen-elemen yang relatif sama di antara keduanya. Penelitian menuntut obyektivitas baik didalam proses/pengukuran maupun penganalisaan/penyimpulan hasil-hasilnya. Suatu kerja penelitian juga memerlukan proses yang intensif, sistematik, terfokus dan lebih formal. Di samping itu, suatu kerja penelitian dilakukan dalam rangka penemuan dan pengembangan bangunan pengetahuan (pengembangan generalisasi, prinsip-prinsip, teori-teori yang memiliki kekuatan deskripsi dan/atau prediksi).
            Sedangkan metode ilmiah, yang dipentingkan ialah aplikasi berfikir deduktif-induktif di dalam pemecahan sesutu masalah. Dilihat dari tujuannya, penelitian dasar atau penelitian murni berkepentingan dengan penemuan generalisasi-generalisasi atau prinsip-prinsip di dalam rangka pengembangan teori-teori ilmu pengetahuan.
            Penelitian terapan berkepentingan dengan penemuan-penemuan yang berkenaan dengan aplikasi dari sesuatu konsep-konsep teoritis tertentu. Jadi bersifat praktis, diperlukan dalam rangka perbaikan atau penyempurnaan sesuatu produk atau proses tertentu, dengan jalan menguji suatu konsep teoritis tertentu didalam menghadapi masalah nyata di sesuatu situasi tertentu.
            Artinya, hasil-hasil penelitian dasar atau murni yang berupa teori-teori, oleh penelitian terapan diuji aplikasinya guna kepentingan-kepentingan praktis tertentu. Penelitian-penelitian pendidikan, umumnya tergolong penelitian jenis terapan ini, yaitu guna mengembangkan generalisasi-generalisasi yang berkenaan dengan proses belajar mengajar dan bahan-bahan pengajaran.
            Tipe-tipe penelitian pendidikan, antara lain:
1.      Penelitian historis, tujuannya untuk mendeskripsikan apa-apa yang telah terjadi. Proses-prosesnya terdiri dari penyelidikan, pencatatan, analisis, dan menginterpretasikan peristiwa-peristiwa masa lampau guna menemukan generalisasi-generalisasi.
2.      Penelitian deskriptif, tujuannya untuk mendeskripsikan apa-apa yang saat ini. Di dalamnya terdapat upaya deskripsi, pencatatan, analisis, dan menginterpretasikan kondisi-kondisi yang sekarang ini terjadi atau ada.
3.      Penelitian eksperimental, bertujuan untuk mendeskripsikan apa-apa yang akan terjadi bila variabel-variabel tertentu dikontrol atau dimanipulasi secara tertentu. Fokus perhatiannya pada hubungan-hubungan antar variabel.
            Suatu penelitian, pada dasarnya suatu kerja intelektual yang memerlukan kreativitas. Hal ini perlu diingat dan disadari benar oleh para pembaca. Penguasaan teknik-teknik dan proses-proses penelitian, tidaklah memberikan jaminan pada keampuhan di keahlian dan kerja penelitian. Keterampilan-keterampilan tadi hanyalah menolong bagi mereka yang tergolong kreatif dan ingin efisien didalam pemecahan masalah-masalah yang dihadapinya.



 BAB II (Pemilihan Masalah dan Penyusunan Proposal Penelitian)

            Proyek penelitian akademis, biasanya dituntut melakukannya sebagai pra-syarat menyelesaikan sesuatu program studi di Perguruan Tinggi, terutama untuk pengambilan gelar sarjana dan doktor. Motivasi proyek penelitian yang diakukan, tidak selalu karena kuatnya dorongan untuk melakukan penelitian itu sendiri. Susahnya lagi, keterbatasan waktu, dana, dan pengalaman penelitian itu sendiri, juga ikut menghantui. Dengan faktor-faktor itu, tentu saja ikut merintangi munculnya penelitian-penelitian bermutu yang bisa diandalkan kontribusi penemuannya bagi khasanah teoritis dan praktis kependidikan.
Bagi para peneliti pemula, pemilihan masalah yang tepat merupakan soal yang dipandang sangat sukar. Para mahasiswa pemula tadi, cenderung memilih masalah-masalah yang begitu luas lingkupnya, atau begitu banyak aspeknya.
Suatu kerangka mengenai hal-hal penting yang mesti dijelaskan dalam suatu usulan penelitian, antara lain:
1.      Rumusan Masalah
Dalam usulan penelitian, perlu ditegaskan dan dirumuskan masalah yang akan diteliti. Penegasan tersebut, bisa berbentuk pertanyaan, juga bisa berbentuk pernyataan deklaratif. Penegasan masalah tersebut sekaligus menggambarkan fokus arah yang diikuti nantinya di dalam proses suatu penelitian. Rumusan masalah haruslah cukup terbatas lingkupnya sehingga memungkinkan penarikan kesimpulan yang tegas.
2.      Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap permasalahan yang dipertanyakan. Hipotesis dimaksud, mestilah menjadi landasan logis dan pemberi arah kepada proses pengumpulan data serta proses penyelidikan itu sendiri. Suatu hipotesis mestilah bisa membuat semakin jelasnya arah yang ingin diuji dari suatu masalah. Suatu hipotesis yang baik mestilah punya ciri-ciri berikut ini:
a.       Bisa diterima oleh akal sehat
b.      Konsisten dengan teori atau fakta yang telah diketahui
c.  Rumusannya dinyatakan sedemikian rupa sehingga dapat diuji dan ditemukan benar-salahnya
d.      Dinyatakan dalam perumusan yang sederhana dan jelas
3.      Signifikansi masalah
Signifikansi masalah, berhubungan dengan soal kegunaan atau kemanfaatan serta urgensinya meneliti sesuatu masalah. Masalah penelitian yang dipilih seyogyanyalah diuji kemanfaatan dan urgensinya, baik dilihat dari kacamata teoritis maupun praktis.
4.      Definisi, Asumsi, dan Keterbatasan Penelitian
Istilah-istilah yang memungkinkan salah tafsir, perlu ditegaskan batasan-batasannya. Kerangka acuan peneliti di dalam masalah yang diteoliti, pada dasarnya dapat dilihat atau tercermin dari definisi-definisi yang ditetapkan dan digunakannya.
5.      Resume Bahan Keputusan Yang Relevan
Dalam usuan suatu penelitian, seyognyalah memuat rangkuman ringkas mengenai hasil-hasil penelitian sebelumnya serta tulisan-tulisan para ahli, tentu saja yang relevan dengan permasalahan yang bakal ditelitinya.
6.      Perincian Prosedur Penelitian Yang Diusulkan
Pada bagian ini, memuat keseluruhan rencana penelitian. Di dalamnya memuat apa-apa yang mesti dan akan dilakukan, bagaimana melakukannya, data apa yang diperlukan, apa dan bagaimana alat pengumpulan data yang akan digunakan, bagaimana teknik-teknik memilih sumber-sumber datanya, serta bagaimanakah datanya nanti dianalisis dan disimpulkan.
7.      Jadwal Kegiatan.
Jadwal kegiatan, juga perlu disiapkan dan ditegaskan dalam usulan penelitian. Dengan adanya kegiatan, peneliti bisa memperhitungkan waktu dan tenaganya secara efektif.



 BAB III ( Penelitian Eksperimental)

Peneliti mempunyai dua tujuan besar, yaitu:
1.  Mesti berusaha menentukan apakah faktor-faktor yang telah dimodifikasi benar-benar memberikan/mempunyai pengaruh atau efek sistematis pada latar eksperimen, dan apakah tampakan gejala/peristiwa yang diobservasi benar-benar tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor luar atau faktor-faktor yang tidak dikontrol.
2.  Mesti juga menentukan apakah hubungan-hubungan sistematis yang telah diidentifikasi, dikontrol dan diukur itu dapat digeneralisasikan
            Variabel-variabel yang bukan merupakanperhatian langsung peniliti, dapat ditiadakan, minimal diminimalkan pengaruhnya, yaitu melalui beberapa metoda. Metoda-metoda dimaksud adalah:
1.    Meniadakan Variabel
2.    Penjodohan Kasus
3.    Penyeimbang Kasus
4.    Analisis Kovarian
Ada sejumlah faktor yang jelas membahayakan kekuatan eksperimen di dalam mengevaluasi pengaruh atau efek-efek variabel bebas. Dalam hubungan ini, Donald T Campbell dan Julian C Stanley telah membahas faktor-faktor dimaksud beserta cara-cara mengatasi yang begitu tegas dan mengagumkan. Faktor-faktor dimaksud antara lain:
1.    Kematangan
2.    Peristiwa Sewaktu-waktu
3.    Pengukuran Tak Stabil
4.    Regresi Statistik
5.    Pilihan Yang Berbeda
6.    Menguapnya Sampel Eksperimen
Rancangan eksperimen pada dasarnya menggambarkan prosedur-prosedur yang memungkinkan peneliti menguji hipotesis penelitiannya, tentu saja untuk mencapai kesimpulan-kesimpulan yang sevalid mungkin mengenai hubungan sesuatu variabel bebas dengan sesuatu variabel tergantung.
Rancangan Pra-Eksperimen terdiri dari:
1.    Studi Bentuk Tunggal
2.    Rancangan Pretest-Posttest Kelompok Tunggal
3.    Rancangan Perbandingan Kelompok Statik
Rancangan Quasi-Eksperimental terdiri dari:
1.    Rancangan Pretest-Posttest Yang Tak Ekuivalen
2.    Rancangan Pretest-Posttest Pada Kelompok Tunggal Yang Materinya Ekuivalen
Rancangan Eksperimen Yang Sebenarnya terdiri dari:
1.    Rancangan Yang Hanya Posttest Pada Kelompok Ekuivalen
2.    Rancangan Pretest-Posttest Pada Kelompok-kelompok Ekuivaen
3.    Rancangan Empat Kelompok Solomon
Jadi, Eksperimen merupakan suatu teknik yang ampuh di dalam upaya pemecahan masalah, tetapi barangkali sesuai ditangani oleh peneliti-peneliti pemula.


   
BAB IV (Studi Deskriptif)

Penelitian deskriftif sering juga disebut penelitian non eksprerimen. Ia berkenaan hubungan antara berbagai variabel. Menguji hipotesi, dan mengembangkan generalisasi, prinsip atau teori-teori yng memiliki validitas universal.Asesman dan Evaluasi terbagi sebagai berikut:
1.    Survei
Metode survei mengumpulkan data dari kasus-kasus yang relatif banyak jumnlahnya pada kurun waktiu tertentu. Survei tidak berkenaan dengan karakteristik individu sebagai individu. Survei berkenaan dengan statistik generalisasi yang dihasilkan bila datanya diabstraksi dari sejumlah kasus individual. Pada dasarnya survei adalah metode cross-sectional.
2.    Studi Kasus
Studi kasus berkenaan dengan segala sesuatu yang baermakna dalam sejarah atau perkembangan kasus. Tujuanya ialah untuk memahami siklus kehidupan dari suatu unit individu.
3.    Survei Sosial
Suatu survei sosial yang cukup berarti ialah dilakukan pada tahun 1930-an di bawah pimpinan ahli sosiologi Swedia, Gunner Myrdal. Almarhum Alfred Kinsey dari Universitas Indiana melakukan suatu survei koprehensif terhadap tingkah laku seksual para lelaki dan wanita kemudian dipublikasikan lima tahun kemudian. Meskipin banyak menimbulkan kontroversi, namun menggambarkan pendekatan ilmiah yang penting. Paul Witty menstudi kebiasaan nonton telivisi anak-anak sekolah, dan menerbitkanya pada tahun 1950. Penelitian ini dilakukan di daerah Chicago.
4.    Studi Deskriptif dan Pemecahan dan Pemecahan Masalah
Jenis informasi yang pertama, didasarkan atas kondisi masa sekarang. Jenis informasi yang kedua, meanyangkut apa yang diinginkan. Ketiga, berkenaan bagaimana cara mencapainya.
5.    Analisi dokumen atau Analisis Isi
Analisis isi, seringkali disebut analisis dokumen, adalah telaah sistematis atas catatan-catatan atau dokumen-dokumen sebgai sumber data.

6.    Studi Waktu dan Gerak (Time and Motion Study)
Studi ini juga banyak dilakukan dibidang industri, terdiri dari observasi dan pengukuran terhadap gerakan-gerakan badan yang dilakukan oleh para pekerja sewaktu melaksanakan tugas-tugas produksi.
7.    Studi Kecenderungan (Trend Study)
Studi kecenderungan (atau studi prediktif),  merupakan penerapan metode diskriptif yang sangat menarik. Yang mendasarkan diri pada pendekatan longitudinal terhadap data yang terekam.
8.    Studi Tindak-Lanjut (Follow-Up Study)
Studi ini meneliti individu-individu yang telah lulus dari suatu program atau suatu sekolah. Yang diteliti ialah apa yang telah terjadi pada mereka, Dan bagaimanakah dampak lembaga dan programnya terhadap mereka.
9.    Studi genetik terhadap Anak-Anak Jenius
Studi ini dilaksanakan di Universitas Stanford, di bawah pimpinan Doktor Lewis M. Terman, yang dilakukan dalam lima tahap. Pusat perhatianya ialah sifat-sifat dan perkembangan para anak jenius. Ada lima kriteria, yaitu sbb:
a.    Subek merupakan sampel unbiased.
b.    Prosedurnya harus seobyektif mungkin.
c.    Hendaknya subyek diawasi hingga dewasa.
d.   Suatu studi hendaknya dilakukan terhadap masa kanak kanak sekelompok represantasi anak jenius.
e.    Harus berdasarkan fakta bukan sekedar tebakan.
10.  Keadaan Mental dan Fisik Seribu Anak Jenius
Penelitian ini memakan biaya 50 ribu dolar lebih, berasal dari Dana Persemakmuran dan dari Universitas Stanford.
11.  Keadaan Mental Tigaratus Orang Jenius Pada Masa Kanak-kanak
12.  Penelitian Tahap Ketiga (Enam Tahun Setelah Tahap Pertama)
13.  Kelompok Jenius Setelah Dewasa
14.  Penelitian Tahap Kelima

  
BAB V (Alat Pengumpulan Data)

Ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan agar item-item pertanyaan dalam angket mudah dipahami, antara lain:
1.    Hindari kata atau istilah yang mudah disalah-artikan.
2.    Hati-hati memakai kata sifat atau kata keterangan yang maknanya belum disepakati.
3.    Hati-hati menggunakan lebih dari satu kata “tidak”.
4.    Hindari alternatif jawaban yang tidak lengkap.
5.    Hindari pertanyaan yang bercabang.
6.    Garis-bawahi kata-kata yang perlu diberi tekanan-khusus.
7.    Hindari asumsi-asumsi yang tidak relevan.
8.    Susun kalimat yang menghasilkan jawaban sempurna.
9.    Berikan kuantifikasi jawaban yang sistematis.
10.  Hati-hati mengklasifikasi jawaban responden.
Sebagai alat pengumpulan data, observasi-langsung akan memberikan sumbangan yang sangat penting dalam penelitian deskriptif. Observasi bisa digunakan secara efektif untuk melihat kekuatan tim-tim yang akan saling berhadapan dalam kompetisi.
Analisis dan interpretasi data menggambarkan penerapan cara berpikir deduktif dan induktif pada proses penelitian. Data penelitian sering diklasifikasi dengan pembagian menjadi sub-sub kelompok, dan kemudian dianalisis dan disintesis sedemikian rua sehingga hipotesisnya bisa diterima atau ditolak. Hasil finalnya mungkin berupa prinsip baru atau generalisasi. Data diuji dipandang dari segi perbandingan antara bagian-bagian yang lebih homogien didalam keutuhan kelompok, dan dengan membandingkannya dengan berbagai kriteria luar.
Keterbatasan dan sumber-sumber kesalahan di dalam analisis dan interpretasi data yang dapat mengancam keberhasilan suatu penelitian, yaitu:
1.    Mengacaukan pernyataan dengan fakta
Kesalahan umum ialah mengacaukan “pendapat” dengan “fakta”.
2.    Mengabaikan keterbatasan
Tiap penelitian punya implikasi kelemahan atau keterbatasan tentang kelompok atau situasi yang digambarkannya.
3.    Tabulasinya ceroboh dan amatir
Bila orang dihadapkan dengan setumpuk data, maka kesalahan pun menghadang.
4.    Prosedur statistiknya tidak tepat
Penggunaan prosedur statistik yang “salah pilih” akan menyebabkan kesimpulannya tidak valid.
5.    Kesalahan menghitung
Karena manipulasi data statistik sering melibatkan angka-angka yang cukup besar, maka selalu ada saja peluang untuk melakukan kesalahan menghitung (baca: kesalahan pengangkaan).
6.    Kesalahan logika
Kategori yang ini terletak pada pemikiran yang dimiliki oleh para peneliti.
7.    Bias peneliti secara tidak disadari
Meskipun obyektivitas adalah tujuan akhir penelitian, tetapi hanya beberapa gelintir manusia sajalah yang dapat mencapainya.
8.    Kurangnya imajinasi
Kualitas imajinasi kreatif, akan membedakan peneliti yang sebenarnya, dengan pengumpulan data.

   
BAB VI ( Analisis Data Deskriptif)

Analisis statistik adalah proses matematik untuk mengumpulkan, mengorganisasi, menganalisis dan menafsirkan data angka. Ia merupakan salah satu daripada fase-fase dasar dalam proses penelitian. Analisis statistik deskriptif mencakup deskripsi suatu kelompok tertentu. Analisis statistik inferensial ditujukan ke arah “penilaian” mengenai populasi, dengan mana sampel yang dipilih diduga memiliki hubungan.
Ada empat tingkat atau skala pengukuran, dari deskripsi paling kasar sampai tingkat yang lebih rumit. Sifat variabelnya dan ketepatan alat ukurnya, menentukan pengukuran yang sesuai, antara lain:
1.    Skala Nominal
Merupakan metode kuantifikasi tingkat terendah.
2.    Skala Ordinal
Merupakan urutan kedudukan klasifikasi yang dinyatakan dalam lebih besar daripada atau lebih kecil daripada.
3.    Skala Interval
Merupakan skala yang didasarkan atas unit-unit pengukuran yang sama, yang menunjukkan besar atau kecilnya suatu karakteristik atau sifat tertentu.
4.    Skala Rasio
Merupakan skala yang memiliki interval yang sama sengan skala interval, tetapi masih memiliki dua ciri tambahan.
Dalam menerapkan cara pengolahan statistik, harus disadari adanya dua jenis data, yaitu:
1.    Data Parametrik
Data jenis ini adalah data terukur, dan tes-tes statistiknya berasumsi bahwa data tersebut memiliki distribusi normal atau mendekati normal.
2.    Data Nonparametrik
Data jenis ini dihitung atau diranking. Tes nonparametrik, yang sering disebut tes bebas-distribusi, tidak bersandar pada asumsi bahwa populasinya memiliki distribusi normal.
Dikenal dua jenis pengolahan statistik, yaitu:
1.    Analisis Deskriptif
2.    Analisis Inferensial
Statistik adalah abdi logika, bukan majikan logika. Statistik adalah alat penelitian, bukan tujuan akhir penelitian. Kecuali kalau asumsi-asumsi dasarnya sudah valid, sudah terkumpul, terekam, tertabulasi dengan cermat dan kecuali kalau analisis dan interpretasinya memang logis, statistik tidak dapat berbuat banyak untuk mencari dan mempersembahkan kebenaran.
Kesimpulan-kesimpulan yang ditarik dari analisis statistik tidak akan lebih akurat atau lebih valid ketimbang data aslinya. Sebagai kiasan, tidak peduli bagaimana teliti dan rumitnya proses pencampuran atau pembuatannya.


























BAB VII ( Analisis Data Inferensial)

Tujuan utama penelitian ialah untuk menemukan prinsip-prinsip yang berlaku universal. Tetapi meneliti populasi seluruhnya untu membuat generalisasi adalah tidak praktis. Jenis-jenis sampel, antara lain:
1.    Sampel Random Sederhana
2.    Sampel Sistematis
3.    Sampel Random Berstrata
4.    Sampel Wilayah
5.    Sampel Insidental
6.    Sampel Statistik Parametrik
Tes nonparametrik atau tes bebas distribusi digunakan bilamana:
1.    Sifat distribusi populasi tidak diketahui normal/tidaknya.
2.    Variabel-variabelnya berbentuk skala nominal.
3.    Variabel-variabelnya berbentuk skala ordinal.
Hipotesis nihil menyatakan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara dua parameter. Hipotesis nihil berkaitan dengan penilaian apakah perbedaan yang nampak itu memang perbedaan yang sebenarnya, ataukah semata-mata akibat dari kesalahan sampling.
Menolak hipotesis nihil atau hipotesis negatif merupakan tes logika yang kuat. Bukti yang tidak sesuai dengan suatu hipotesis negatif tertentu akan memberikan dasar yang kuat untuk menolaknya.
Statistik adalah alat yang diperlukan oleh peneliti untuk membuat inferensi atau generalisasi mengenai populasi atas dasar observasinya terhadap karakteristi-karakteristik sampel. Meskipun sampel tidak merupakan “duplikat” karakteristik populasi, danmeskipun sampel-sampel dari populasi yang sama akan tetap berbeda satu sama lain, akan tetapi sifat variasinya dapat diprediksi.
Pengolahan data statistik parametrik didasarkan atas asumsi-asumsi tertentu mengenai sifat distribusinya dan jenis pengukuran yang digunakan. Pengolahan data statistik nonparametrik memberi kemungkinan dilakukannya inferensi tanpa asumsi-asumsi mengenai sifat distribusi datanya. Masing-masing teknik tersebut memberikan sumbangan yang amat berharga dalam analisis hubungan data.
Keputusan-keputusan statistik tidak dibuat atas dasar kepastian, melainkan atas dasar estimasi probabilitas (kemungkinan). Dalil batas tengah, kesalahan sampling, varian, hipotesis nihil, tingkat signifikansi, serta tes dua ekor dan tes satu ekor, sudah dijelaskan dan digambarkan. Meskipun pembicaraan ini singkat dan tidak begitu lengkap, tetapi penyajian berbagai konsep tersebut dapat cukup membantu para konsumen peneliti dalam menelaah laporan-laporan penelitian.

      
BAB VIII (Penelitian Sejarah)

Sejarah adalah “rekaman” prestasi manusia. Ia bukan semata-mata daftar rentetan peristiwa secara kronologis, melainkan gambaran mengenai berbagai hubungan yang benar-benar manunggal antara manusia, peristiwa, saat dan tempat.
Mereka yang berpendapat bahwa penelitian sejarah memiliki ciri-ciri aktivitas penelitian imiah, mengemukakan argumen:
1.    Sejarahwan juga membatasi masalah, merumuskan hipotesis atau mengajukan pertayaan untuk dijawab, mengumpulkan dan menganalisis data primer, menguji hipotesis, dan merumuskan generalisasi atau kesimpulan.
2.    Meskipun sejarahwan tidak menyaksikan sendiri suatu peristiwa atau tidak mengumpulkan data sendiri secara langsung, tetapi dia memiliki kesaksian sejumlah saksi yang sudah mengamati peristiwanya dari tempat yang menguntungkan.
3.    Dalam mencapai kesimpulan, sejarahwan memakai prinsip-prinsip probabilitas yang sama dengan prinsip probabilitas yang digunakan oleh para ahli ilmu eksakta.
4.    Meskipun sejarahwan tidak dapat mengontrol variabel secara langsung, tetapi kelemahan ini pun mewarnai sebagian besar penelitian dalam ilmu-ilmu tingkah laku, terutama penelitian non-laboratorium dalam sosiologi, psikologi sosial, dan ekonomi.
Masalah yang dicakup dalam proses penelitian sejarah, agak sulit dirumuskan. Kesulitannya yang utama terletak paa pembatasan masalah agar dapat dilakukan suatu analisis yang memuaskan.
Data sejarah, seperti halnya data pada bidang-bidang lainnya, biasanya diklasifikasikan menjadi dua kategori pokok, yakni:
1.    Sumber primer,cerita atau penuturan atau catatan para saksi mata.
2.    Sumber sekunder, cerita atau penuturan atau catatan mengenai suatu peristiwa yang tidak disaksikan sendiri oleh pelapor.
Kritik sejarah adalah penilaian atas dasar data primer. Kritik eksternal berkenaan dengan keaslian peninggalan atau dokumen. Kritik internal berkenaan dengan keterpercayaan atau relevansi bahan temuan. Kisah tentang Raksasa Cardiff, serta laporan tentang Perkamen Laut Mati dan Batu gantung menggambarkan proses kritik sejarah.
Kritik sejarah terbagi menjadi dua, yaitu:
1.    Kritik Eksternal
2.    Kritik Internal
Telaah terhadap penelitian-penelitian sejarah sering mengungkapkan kelemahan yang serius. Yang sering muncul ialah kesalahan seperti: perumusan masalah terlalu luas, sumber data primernya tidak memadai, ketidak-mampuan melakukan kritik sejarah, kurang logisnya analisis data, bias pribadi, dan tidak efektifnya penulisan laporan penelitian sejarah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar